Bersih kukuh pada rangakaian kata
Rumah kita ada disini
Sedang kita bilang rumput tetangga lebih hijau adanya
Sedikit, sedikit
Pamuda bangsa berpaling
Andaikan negara ini punya lengan
Mungkin hastanya sudah menepi
Pada jagoan tua
Yang ia pun bertengger pada sebuah tongkat
Menunggu anaknya yang tak kunjung pulang
Anaknya yang lebih mencintai tetangga
Sedangnkan hati pasti
Dan akan selalu bersih kukuh pada rangkaian kata
Rumah kita ada disini
Karya : Renata Dinda
Senin, 21 April 2014
Sabtu, 21 Desember 2013
IKLIM DALAM ARSITEKTUR
Pada proses
perancangan arsitektur, disamping faktor manusia dan kebutuhan akan material bangunan,
faktor iklim juga memiliki pengaruh yang besar terhadap suatu perancangan
bangunan. Keadaan iklim yang bervariasi di bumi ini menghadirkan gaya, langgam,
sifat dan bentuk arsitektur yang berbeda/beragam.
PEMBAGIAN IKLIM
Pembagian iklim dalam arsitektur sangat
berkaitan dengan faktor kenyamanan (comfort) dalam kaitan interaksi pemakai dan
bangunan.
Dalam hal ini iklim dapat dibagi
menjadi 4 katagori utama, yaitu:
- · Iklim Dingin (sejuk)
Iklim ini ditandai oleh rendahnya panas
dari radiasi matahari akibat sudut matahari yang rendah. Suhu udara rata-rata
15 0C dibawah nol (-60 0 s/d -70 0F) dan sering dibarengi dengan sejumlah besar
hujan. Kelembaban relatif tinggi selama musim dingin.
- · Iklim Moderat (sedang)
Iklim ini ditandai dengan variasi
panas yang berlebihan dan dingin yang berlebihan pula, namun tak begitu kontras.
Suhu rata-rata pada musim dingin 15 0C dibawah nol dan suhu terpanas sekitar 250C.
- · Iklim Panas Lembab
Iklim ini ditandai dengan variasi
panas yang berlebihan serta banyak uap air. Suhu rata-rata diatas 20 0C dengan
kelembaban relatif sekitar 80% - 90%.
- · Iklim Panas Kering
Iklim ini ditandai dengan panas yang berlebihan,
kurangnya uap air dan udara kering. Suhu udara rata-rata 25 0C, suhu terpanas
dapat mencapai 45 0C, sedangkan suhu terdingin dapat mencapai 10 0C disertai
dengan kelembaban relatif yang sangat rendah.
Melihat pentingnya pengaruh iklim
dalam perencanaan bangunan, maka perlu untuk melakukan pembahasan yang lebih
khusus tentang iklim.
Pembahasan iklim sebagai sebuah topik
khusus dengan cakupan yang cukup luas ini bertujuan untuk:
1. Memperdalam
pengertian sifat dan tabiat dari ”shelter” atau tempat manusia melakukan
aktivitasnya dalam usaha menanggulangi pengaruh iklim.
2.
Memperdalam
pengertian “lingkungan makro” (macro environment) dengan parameter-parameter
yang mempengaruhi lingkungan tersebut beserta prinsip-prinsip untuk mencapai
“lingkungan mikro” (micro environment) yang sesuai untuk penghuninya.
3. Lebih
memberi keyakinan ilmiah pada bentuk (form) sebagai produk akhir dari karya
arsitektur. Sehingga bentuk dalam arsitektur tidak hanya estetis, tapi juga
logis.
4.
Mempelajari
dan menilai keadaan bangunan yang telah ada
Faktor-faktor yang mempengaruhi pada
perancangan arsitektur ditinjau dari iklim antara lain :
1.
Orientasi
bangunan terhadap lintasan matahari, angin, dan sistem jalur jalan.
2.
Karakteristik
material bangunan terhadap iklim.
3.
Penerangan
sekeliling bangunan.
4.
Letak,
luas permukaan pada sisi bangunan.
5.
Tinggi
bangunan.
6.
Prosentasi
luasan penghijauan. Kepadatan bangunan.
Sistem Penghawaan
Ada 2 prinsip utama dalam penghawaan
bangunan guna mencapai lingkungan yang sesuai untuk penghuninya, yaitu
penghawaan alam dan buatan. Penghawaan alam pada dasarnya memanfaatkan aliran
angin guna pergantian udara pada ruang dalam bangunan.
Aliran angin dapat
terjadi melalui dua proses, yaitu :
1.
Perbedaan
tekanan pada dua tempat
2.
Perbedaan
suhu udara pada dua tempat
Penghawaan alam pada dasarnya tergantung
pada tenaga angin, maka perancangan penghawaan alam untuk suatu ruangan dalam
merupakan usaha untuk merancang:
1.
Sistem
pembukaan
2.
Luas
pembukaan
3.
Letak
pembukaan
Sedangkan aliran udara di luar sebelum
masuk ke dalam ruangan sangat dipengaruhi oleh :
1.
Sistem
lay out kelompok bangunan
2.
Sistem
orientasi utama bangunan
3.
Elemen
lansekap
Pengaruh iklim pada bangunan. Bangunan sebaiknya dibuat secara terbuka denganjarak yang cukup diantara bangunan tersebut agar gerak udara terjamin. Orientasi bangunan ditepatkan diantara lintasan matahari dan angin sebagai kompromi antara letak gedung berarah dari timur ke barat, dan yang terletak tegak lurus terhadap arah angin. Gedung sebaiknya berbentuk persegi panjang yang menguntungkan penerapan ventilasi silang.
A.
Ventilasi Silang
Ventilasi silang ialah penghawaan
dalam ruangan melalui dua lubang ventilasi yang saling berhadapan. Lubang
pertama untuk masuknya udara sedangkan kedua untuk udara keluar. Penggunaan ventilasi
silang tidak sepenuhnya tergantung pada jumlah pergantian udara di dalam
ruangan, namun lebih tergantung pada kecepatan angin. Kriteria untuk kondisi
ventilasi yang baik ditentukan oleh tipe pemakaian ruang dan iklim setempat.
Untuk mencapai distribusi aliran udara yang baik, maka sebaiknya sudut angin
datang ialah 45 0 – 60 0 terhadap bidang dinding muka. Elemen penangkap angin,
misalnya sirip vertical dapat membantu mempercepat aliran angin ke dalam
ruangan. Hal ini disebabkan adanyabenturan angin yang secara aerodinamika dapat
menghasilkan kecepatan tambahan.
B.
Bentuk Bangunan dan Orientasi
Orientasi bangunan terhadap arah aliran
angin perlu sekali mendapat perhatian, termasuk untuk bangunan tinggi. Hal ini
disebabkan karena pada permukaan yang semakin tinggi kecepatan angin semakin
tinggi pula dan elemen-elemen penghambat angin seperti pohon sudah tak
berfungsi lagi.
Angin bergerak pada umumnya akan mengikuti
kontur permukaan yang melengkung, sudut tajam atau permukaan yang kasar akan
menyebabkan angin menjadi terpisah. Untuk kecepatan angin yang cukup
tinggi/kencang, maka bentuk yang dinamis dan orientasi yang benar perlu sekali
dalam perancangan arsitektur.
C.
Pembayangan Matahari
Pada perancangan bangunan yang
berkaitan dengan panas yang ditimbulkan oleh matahari, perancang sering
memanfaatkan pembayangan sinar untuk mengurangi panas yang diterima oleh
bangunan. Pemanfaatan pembayangan merupakan cara yang efisien untuk mengurangi
beban panas, walaupun hambatan panas dapat dikontrol dengan perancangan luas permukaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perancangan pembayangan sinar matahari
adalah:
1.
Mampu
mengontrol hantaran panas
2.
Jumlah
sinar masuk yang diperlukan untuk penerangan malam
3.
Kesilauan
yang terjadi
Sudut pembayangan sinar matahari
berubah pada setiap saat, tergantung pada posisi matahari. Oleh karena itu ada
juga nacam pembayangan, yaitu :
1.
Pembayangan
vertical
2.
Pembayangan
horizontal
3.
Kombinasi
pembayangan vertical dan horizontal
Untuk mendapatkan suatu hasil perancangan
arsitektur yang maksimal terhadap pembayangan sinar matahari, maka
faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah:
1. Pembayangan
akan lebih efisien apabila berada disebelah luar dari bangunan dibandingkan
dengan sebelah dalam.
2.
Pembayangan
luar efisien apabila mempunyai warna gelap.
3.
Pembayangan
dalam efisien apabila memiliki warna yang lebih terang.
4.
Pemakaian
pembayangan dalam bangunan akan menyebabkan penambahan panas apabila warna
gelap.
5. Pembayangan
matahari sebaignya menggunaikan material yang mempunyai kapasitas thermis yang
rendah, agar cepat dingin setelah matahari terbenam, sehingga tidak merambatkan
panas kedalam bangunan.
6. Pembayangan
matahari tidak selalu sirip vertical dan horizontal atau keduanya bersama,
namun ide self shading juga merupakan suatu potensi rancangan arsitektur,
sehingga bentuk bangunan lebih dapat memberikan arti.
Sumber :
·
Djelantik, Bahan Kuliah, Iklim dan
Arsitektur, Surabaya Reproduksi Arsitektur ITS
·
Setyo Soetiadji Soepadi (1997),
Anatomi Utilitas, Djambatan, Jakarta
EKOLOGI DALAM ARSITEKTUR
Ekologi adalah ilmu yang
mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan
yang lainnya. Berasal dari kata Yunani Oikos (habitat)
dan Logos (ilmu). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk
hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan
oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914). Dalam ekologi,
makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Ekologi
berasal dari kata ekologi yang artinya adalah lingkungan (lingkungan yang
terpelihara mulai dari Atmosfer, Biosfer, dan Lithosper), sedangkan Arsitektur
adalah, suatu bentuk atau masa, atau juga tata ruang yang terencana secara
fungsional yang direncanakan oleh arsitek serta disiplin ilmu lain yang
terlibat di dalamnya, maka Eko Arisitektur adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan tidak hanya bentuk masa bangunan, material, tata ruang
ataupun nilai kearifan lokal yang ada, namun juga kepedulian kita sendiri
terhadap bangunan tersebut, bagaimana kita mengartikan fungsi dari pada
bangunan tersebut,bagaimana kita mengelolanya, dan bagaimana kita
merawatnya.
EKOLOGI ARSITEKTUR
Ekologi Arsitektur merupakan pembangunan
berwawasan lingkungan, dimana memanfaatkan potensi keselarasan antara bangunan
dengan alam sekitarnya, mulai dari Atmosfer, biosfer, Lithosfer serta
komunitas. Unsur-unsur ini berjalan harmonis menghasilkan kenyaman, kemanan,
keindahan serta ketertarikan. Ekologi Arsitektur telah lama diterapkan di
Eropa, Amerika dan Asia tentunya, dimulai dengan perencanaan resort, villa,
lodge, dan taman yang bertujuan sebagai tempat peristirahatan, rekreasi,
camping ground,atau lainnya, sementara nilai – nilai ekologi adalah kewajiban
yang dibawa ke dalamnya. Namun, setelah semakain banyak timbulnya bencana,
nilai-nilai ekologi diterapkan kembali sebagai suatu prioritas.
Ekologi Arsitektur berfungsi sebagai
sarana edukasi serta analisis untuk mewujudkan fasilitas fisik berwawasan
lingkungan, dengan dilakukannya perencanaan secara Ekologi Arsitektur, maka
akan terwujudkan keselarasan antara fasilitas fisik dengan Lingkungan.
Tujuan Bangunan yang berwawasan
Lingkungan
Bangunan yang berwawasan lingkugan
adalah bangunan yang peka terhadap lingkungan tempatnya didirikan. Tujuannya
adalah memberikan pendidikan dan contoh bahwa bangunan itu didirikan dengan
pertimbangan yang berpihak kepada lingkungan.
Berikut beberapa tujuan prioritas
dalam mendirikan bangunan yang berwawasan ekologi:
·
Sebagai
contoh atau panutan bagi masyarakat umum bahwa betapa pentingnya studi
lingkungan sebelum mendirikan bangunan.
·
Memberikan
arahan pada masyarakat tentang bentuk bangunan yang sesuai dengan
lingkungan serta budaya sekitar.
·
Memberikan
contoh bagaimana perletakan tapak bangunan tanpa menimbulkan pengaruh yang
negatif terhadap lingkungan.
·
Mengikutsertakan
masyarakat dalam proses pembangunan, sehingga masyarakat dapat belajar, dan
terciptanya peningkatan ekonomi lokal.
·
Memberikan
contoh yang benar akan pengelolaan serta perawatan bangunan ekologi, baik itu
fisik bangunannya, pengelolaan limbahnya, pengelolaan sumber kebutuhan serta
energi sehari-hari, pengelolaan vegetasinya, dan yang terpenting adalah
perilaku manusianya.
·
Memberikan
kontribusi terhadap lingkungan sekitar untuk merawat sumber material lokal,dan
mengajak masyrakat untuk dapat memahami cara merawat, menggunakan serta
mamanfaatkan sumber material lokal.
Info lingkungan kualitas arsitektur
biasanya sulit diukur, garis batas antara arsitektur yang bermutu dan yang
tidak bermutu. Kualitas arsitektur biasanya hanya memperhatikan bentuk bangunan
dan konstruksinya, tetapi mengabaikan yang dirasakan sipengguna dan kualitas
hidupnya. Apakah pengguna suatu bangunan merasa tertarik.
Pola Perencanaan Eko-Arsitektur selalu
memnfaatkan alam sebagai berikut :
·
Dinding,
atap sebuah gedung sesuai dengan tugasnya, harus melidungi sinar panas, angin
dan hujan.
·
Intensitas
energi baik yang terkandung dalam bahan bangunan yang digunakan saat
pembangunan harus seminal mungkin.
·
Bangunan
sedapat mungkin diarahkan menurut orientasi Timur-Barat dengan bagian
Utara-Selatan menerima cahaya alam tanpa kesilauan
·
Dinding
suatu bangunan harus dapat memberi perlindungan terhadap panas. Daya serap
panas dan tebalnya dinding sesuai dengan kebutuhan iklim/ suhu ruang di
dalamnya. Bangunan yang memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa
menghemat banyak energi.
Pengaruh baik
tugas seorang arsitek terhadap lingkungan
Memperhatikan hubungan antara
ekologi dan arsitektur,
yaitu hubungan antara massa bangunan dengan makhluk hidup yang ada disekitar
lingkungannya, tak hanya manusia tetapi juga flora dan faunanya. Arsitektur
sebagai sebuah benda yang dibuat oleh manusia harus mampu menunjang kehidupan
dalam lingkugannya sehingga memberikan timbal balik yang menguntungkan untuk
kedua pihak. Pendekatan ekologis dilakukan untuk menghemat dan mengurangi
dampak – dampak negatif yang ditimbulkan dari terciptanya sebuah massa
bangunan, akan tetapi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar. Contoh terapannya
yaitu :
·
Munculnya
trend green design.
·
Memberikan
dampak pada estetika bangunan.
·
Dapat
memberikan pemecahan masalah pada tata letak bangunan atau kota.
Memperhatikan kondisi lahan yang akan dibangun. Sebagai
contoh bila bangunan akan didirikan pada lahan yang memiliki kemiringam, maka
dengan pendekatan ekologis bisa dicarikan solusinya seperti memperkuat pondasi,
atau menggabungkan unsur alam pada lingkungan dengan bangunan yang ada sehingga
semakin estetis bangunan yang tercipta.
sumber :
.
http://www.omasae.com/2012/08/pengaruh-tugas-seorang-arsitek-terhadap.htmlSabtu, 14 Desember 2013
ARSITEK dan ARSITEKTUR
ARSITEK adalah ‘seseorang’ ahli dalam bidang arsitektur, ahli rancanga
bangun, atau ahli rancang binaan.
Lingkup
pekerjaan arsitek sangatlah luas. Mulai dari lingkup interior ruang, lingkup
bangunan, lingkup kompleks bangunan, sampai dengan lingkup kota atau regional.
Secara umum lagi ARSITEK adalah sebuah perancang
skema atau rencana.
ARSITEK berasal
dari Latin yaitu “architectus”, dan dari bahasa Yunani yaitu “architekton”
(master pembangun), archi (pemimpin) + tekton (pembangun/tukang
kayu).
Jenis Tugas dan Lingkup Pekerjaan Arsitek
Layanan Utama Kerja Arsitek dalam pekerjaan perencanaan dan perancangan Arsitektur dilaksanakan dalam tahap pekerjaan sebagai berikut :
Pekerjaan Tahap ke 1 : Tahap Konsep Rancangan
Pekerjaan Tahap ke 2 : Tahap pra-Rancangan / Skematik Desain
Pekerjaan Tahap ke 3 : Tahap Pengembangan Rancangan
Pekerjaan Tahap ke 4 : Tahap Pembuatan Gambar Kerja
Pekerjaan Tahap ke 5 : Tahap Proses Pengadaan Pelaksanaan Konstruksi
Pekerjaan Tahap ke 6 : Tahap Pengawasan Berkala.
Layanan Utama Kerja Arsitek dalam pekerjaan perencanaan dan perancangan Arsitektur dilaksanakan dalam tahap pekerjaan sebagai berikut :
Pekerjaan Tahap ke 1 : Tahap Konsep Rancangan
Pekerjaan Tahap ke 2 : Tahap pra-Rancangan / Skematik Desain
Pekerjaan Tahap ke 3 : Tahap Pengembangan Rancangan
Pekerjaan Tahap ke 4 : Tahap Pembuatan Gambar Kerja
Pekerjaan Tahap ke 5 : Tahap Proses Pengadaan Pelaksanaan Konstruksi
Pekerjaan Tahap ke 6 : Tahap Pengawasan Berkala.
Pelaksanaan tahapan-tahapan
Pekerjaan Perancangan dilaksanakan sebagai berikut :
Setiap tahapan pekerjaan perancangan dapat dilaksanakan daat tahap pekerjaan sebelumnya telah mendapat persetujuan dari pengguna jasa.
Tahap 1 : Tahap Konsep Rancangan
1. Sebelum kegiatan perancangan dimulai, perlu ada kejelasan mengenai semua data dan informasi dari pengguna jasa yang terkait tentang kebutuhan dan persyaratan pembangunan agar maksud dan tujuan pembangunan dapat terpenuhi.dengan sempurna.
2. Pada tahap ini arsitek melakukan persiapan perancangan yang meliputi pemeriksaan seluruh data serta informasi yang diterima yang diterima, membuat analisis dan pengolahan data yang menghasilkan :
a. Program Rancangan yang disusun arsitek berdasarkan pengolahan data primer maupun sekunder serta informasi lain untuk mencapai batasan tujuan proyek serta kendala persyaratan/ketentuan pembangunan yang berlaku.
Setelah program rancangan diperiksa dan mendapat persetujuan pengguna jasa, selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk konsep rancangan.
b. Konsep Rancangan yang merupakan dasar pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan semua bidang terkait baik struktur, mekanikal, elektrikal, dan atau bidang keahlian lain bila diperlukan yang melandasi perwujudan gagasan rancangan yang menampung semua aspek, kebutuhan, tujuan, biaya, dan kendala proyek.
Setelah mendapatkan persetujuan dari pengguna jasa konsep ini merupakan racangan dasar perancangan tahap selanjtunya.
Tahap 2 : Tahap pra-Rancanan/Skematik Desain
1. pra-Rancangan
Pada tahap ini berdasarkan Konsep Rancangan yang paling sesuai dan dapat memenuhi persyaratan program perancangan, arsitek menyusun pola dan gubahan bentuk arsitektur yang diwujudkan dalam gambar-gambar. Sedangkan nilai fungsional dalam bentuk diagram-diagram. Aspek kualitatif lainnya serta aspek kuantitatif seperti perkiraan luas lantai, informasi penggunaan bahan, sistem konstuksi, biaya, dan waktu pelaksanaan pembangunan disajikan dalam bentuk laporan tertulis maupun gambar-gambar.
Setelah diperiksa dan mendapatkan persetujuan dari pengguna jasa, arsitek melakukan kegiatan tahap selanjutnya.
2. Sasaran tahap ini untuk :
a. Membantu pengguna jasa dalam memperoleh pengertian yang tepat atas program dana konsep rancangan yang telah dirumuskan arsitek.
b. Mendapatkan pola dan gubahan bentuk rancangan yang tepat, waktu pembangunan yang paling singkat, serta biaya yang paling ekonomis.
Setiap tahapan pekerjaan perancangan dapat dilaksanakan daat tahap pekerjaan sebelumnya telah mendapat persetujuan dari pengguna jasa.
Tahap 1 : Tahap Konsep Rancangan
1. Sebelum kegiatan perancangan dimulai, perlu ada kejelasan mengenai semua data dan informasi dari pengguna jasa yang terkait tentang kebutuhan dan persyaratan pembangunan agar maksud dan tujuan pembangunan dapat terpenuhi.dengan sempurna.
2. Pada tahap ini arsitek melakukan persiapan perancangan yang meliputi pemeriksaan seluruh data serta informasi yang diterima yang diterima, membuat analisis dan pengolahan data yang menghasilkan :
a. Program Rancangan yang disusun arsitek berdasarkan pengolahan data primer maupun sekunder serta informasi lain untuk mencapai batasan tujuan proyek serta kendala persyaratan/ketentuan pembangunan yang berlaku.
Setelah program rancangan diperiksa dan mendapat persetujuan pengguna jasa, selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk konsep rancangan.
b. Konsep Rancangan yang merupakan dasar pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan semua bidang terkait baik struktur, mekanikal, elektrikal, dan atau bidang keahlian lain bila diperlukan yang melandasi perwujudan gagasan rancangan yang menampung semua aspek, kebutuhan, tujuan, biaya, dan kendala proyek.
Setelah mendapatkan persetujuan dari pengguna jasa konsep ini merupakan racangan dasar perancangan tahap selanjtunya.
Tahap 2 : Tahap pra-Rancanan/Skematik Desain
1. pra-Rancangan
Pada tahap ini berdasarkan Konsep Rancangan yang paling sesuai dan dapat memenuhi persyaratan program perancangan, arsitek menyusun pola dan gubahan bentuk arsitektur yang diwujudkan dalam gambar-gambar. Sedangkan nilai fungsional dalam bentuk diagram-diagram. Aspek kualitatif lainnya serta aspek kuantitatif seperti perkiraan luas lantai, informasi penggunaan bahan, sistem konstuksi, biaya, dan waktu pelaksanaan pembangunan disajikan dalam bentuk laporan tertulis maupun gambar-gambar.
Setelah diperiksa dan mendapatkan persetujuan dari pengguna jasa, arsitek melakukan kegiatan tahap selanjutnya.
2. Sasaran tahap ini untuk :
a. Membantu pengguna jasa dalam memperoleh pengertian yang tepat atas program dana konsep rancangan yang telah dirumuskan arsitek.
b. Mendapatkan pola dan gubahan bentuk rancangan yang tepat, waktu pembangunan yang paling singkat, serta biaya yang paling ekonomis.
c. Memperoleh kesesuaian pengertian yang lebih tepat atas konsep rancangan serta pengaruhnya terhadap kelayakan lingkungan.
d. Menunjukan keselarasan dan keterpaduan konsep rancangan terhadap keterpaduan konsep Rencana Tata Kota dalam rangka perizinan.
Tahap 3 : Tahap Pengembangan Rancangan
1. Pada tahap Pengembangan Rancangan, arsitek bekerja keras atas dasar pra-rancangan yang telah disetujui oleh pengguna jasa untuk menentukan :
a. Sistem konstruksi dan struktur bangunan, sistem mekanikal-elektrikal, serta disiplin terkait lainnya dengan mempertimbangkan kelayakan dan kebaikannya baik terpisah maupun secara terpadu.
b. Bahan bangunan akan dijelaskan secara garis besarn dengan mempertimbangakan nilai, manfaat, ketersediaan bahan, konstruksi, dan nilai ekonomi.
c. Perkiraan biaya konstruksi akan disusun berdasarkan sistem bangunan, kesemuanya disajikan dalam bentuk gambar-gambar, diagaram-diagaram sistem, dan laporan tertulis.
d. Setelah diperiksa dan mendapatkan persetujuan jasa, hasil pengembangan rancangan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan oleh arsitek sebagai dasar untuk memulai tahap selanjutnya.
2. Sasaran tahap ini untuk :
a. Untuk memastikan dan menguraikan ukuran serta wujud karakter bangunan secara menyeluruh, pasti, dan terpadu.
b. Untuk mematangkan konsep rancangan secara keseluruhan, terutama ditinjau dari keselarasan sistem-sistem yang terkandung didalamnya baik dari segi kelayakan fungsi, estetika, waktu, dan ekonomi bangunan.
Tahap 4 : Tahap Pembuatan Gambar Kerja
1. Pada tahap Pembuatan Gambar Kerja, berdasarkan hasil pengembangan rancangan yang telah disetujui oleh pengguna jasa, Arsitek menerjemahkan konsep rancangan yang terkandung dalam pengembangan rancangan tersebut ke dalam gambar-gambar dan uraian uraian teknis yang terperinci sehingga secara tersendiri maupun secara keseluruhan dapat menjelaskan proses pelaksanaan dan pengawasan konstruksi.
Arsitek menyajikan dokumen pelaksanaan dalam bentuk gambar gambar kerja dan tulisan spesifikasi dan syarat syarat teknik pembangunan yang jelas, lengkap dan teratur, serta perhitungan kuantitas pekerjaan dan perkiraan biaya pelaksanann pembangunan yang jelas, tepat, dan terperinci.
Setelah diperiksa dan mendapatkan persetujuan dari pengguna jasa, Gambar Kerja yang dihasilkan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan siap digunakan untuk proses selanjutnya.
2. Sasaran tahap ini untuk :
a, Untuk memperoleh teknik pelaksanaan konstruksi, agar konsep rancangan yang tergambar dan dimaksud dalam pengembangan rancangan dapat diwujudkan secara fisk dengan mutu yang baik.
b. Untuk memperoleh kuantitatif, agar biaya dan waktu pelaksanaan pembangunan dapat dihitung dengan seksama dan dapat dipertanggungjawabkan.
c. Untuk melengkapi kejelasan teknis dalam bidang administrasi pelaksanaan pembangunan dan memenuhi persyaratak yuridis yang terkandung dalam dokumen pelelangan dan dokumen perjanjian/kontrak kerja konstruksi.
Tahap 5 : Tahap Proses Pengadaan Pelaksanaan Konstruksi
1. Penyiapan Dokumen Pengadaan Pelaksanaan Konstruksi.
Pada tahap ini, arsitek mengolah hasil pembuatan Gambar Kerja ke dalam bentuk format Dokumen Pelelangan yang dilengkapi (RKS) serta Rencana Anggaran Biaya (RAB) termasuk Daftar Volume (Bill of Quantity/BQ).
Sehingga secara tersendiri maupun keseluruhan dapat mendukung proses :
a. Pemilihan Pelaksana Konstruksi
b. Penugasan Pelaksana Konstruksi
c. Pengawasan Pelaksana Konstruksi
d. Perhitungan besaran luas dan volume serta biaya pelaksanaan pembangunan yang jelas
2. Pada Tahap Pelelangan Arsitek membantu pengguna jasa secara menyeluruh atau secara sebagian dalam :
a. Mempersiapkan dokumen pelelangan;
b. Melakukan prakualifikasi seleksi pelaksana konstruksi;
c. Membagikan Dokumen Pelelangan kepada peserta/lelang;
d. Memberikan penjelasan teknis dan lingkup pekerjaan;
e. Menerima penawaran biaya dari pelaksana konstruksi;
f. Melakukan penilaian atas penawaran tersebut;
g. Melakukan nasihat dan rekomendasi pemiliha pelaksana konstruksi kepada pengguna jasa;
h. Menyusun Perjanjian Kerja Konstruksi antara Pengguna Jasa dan Pelaksana Konstruksi.
3. Sasaran tahap ini untuk :
Untuk memperoleh penawaran biaya dan waktu konstruksi yang wajar dan memenuhi persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan sehingga Konstruksi dapat dipertanggungjawabkan dan dilaksanakan dengan baik dan benar.
Tahap 6 : Tahap Pengawasan Berkala
a. Arsitek melakukan peninjauan dan pengawasan secara berkala dilapangan dan mengadakan pertemuan secara teratur dengan pengguna jasa dan Pelaksana Pengawasan Terpadu atai MK yang ditunjuk oleh pengguna jasa.
b. Dalam hal ini, arsitek tidak terlibat dalam kegiatan pengawasan harian atau menerus.
c. Penanganan pekerjaan pengawasan berkala dilakukan paling banyak 1 kali dalam 2 minggu atau sekurang kurangnya 1 kali dalam sebulan.
2. Apabila lokasi pembangunan diluar kota tempat kediaman arsitek, maka biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan perjalan arsitek ke lokasi pembangunan, wajib diganti oleh pengguna jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau yang ditetapkan dan disepakati bersama sebelumnya.
3. Sasaran tahap ini untuk :
a. Untuk membantu pengguna jasa dalam merumuskan kebijaksanaan dan memberikan pertimbangan-pertimbangan untuk mendapatkan keputusan tindakan pada waktu pelaksanaan konstruksi, khususnya masalah-masalah yang erat dengan hubungannya dengan yang dibuat oleh arsitek.
b. Untuk membantu Pengawasan Terpadu atau MK khususnya dalam menanggulangi masalah-masalah konstruksi yang berhubungan dengan rancangan yang dibuat oleh arsitek.
c. Untuk turut memastikan bahwa pelaksanaan konstruksi dilakukan sesuai dengan ketentuan dengan ketentuan mutu yang terkandung dalam rancangan yang dibuat oleh arsitek.
ARSITEKTUR adalah
“seni” dan “ilmu” dalam merancang bangunan dan merancang lingkungan binaan
(artekfak). Mulai dari lingkup makro, seperti perencanaan dan parancangan
bangunan, interior, furniture, dan produk.
Dalam arti yang sempit, arsitektur sering kali
diartikan sebagai ilmu dan seini perencanaan dan perancangan bangunan. Dalam pengertian
lain, istilah ARSITEKTUR sering juga dipergunakan untuk menggantikan istilah “hasil-hasil
proses perancangan”.
Menurut Vitruvius didalam bukunya De
Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga
sekarang) bangunan yang baik haruslah memiliki :
· Keindahan / Estetika (Venustas)
· Kekuatan (Firmitas)
· Kegunaan / Fungsi (Utilitas)
ARSITEKTUR dapat dilaksanakan sebagai keseimbangan dan
koordinasi antara ketiga untur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi
unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan
fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa untus
fungsi itu sendiri didalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun
psikologis.
ARSITEKTUR adalah holak, termasuk
didalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, politik,
sejara, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, “Arsitektur adalah ilmu
yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar,
dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni”. Ia pun
menambahg=kan bahwa seorang arsitek harus fasih didalam bidang musik,
astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama didalam pendekatan
arsitektur. Rasionalisme, empirisisme, fenomenologi strukturalisme,
post-strukturalisme, dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat
yang memengaruhi arsitektur.
Senin, 17 Juni 2013
SUKU DAYAK
Benarlah jika Bhineka Tunggal Ika, dijadikan semboyan bangsa Indonesia yang
kaya akan pesona budayanya. Salah satunya adalah Suku Dayak.
Jika Amerika Serikat memiliki suku Indian yang ternama itu, Indonesia juga tak kalah. Negara ini memiliki berbagai macam suku dan adat istiadat yang menarik untuk ditelisik.
Salah satunya adalah Suku Dayak. Suku asli Kalimantan ini bisa dibilang sebagai Indian nya Indonesia. Perbandingan memang tak berdasar. Namun, sebagian masyarakat kerap membandingkan Dayak dan Indian yang berada jauh di sana.
Mungkin karena awalnya suku Dayak memiliki keunikan dalam pakaian adat. Lalu berkembang kemudian soal rumah tinggal, adat istiadat, sistem sosial, dan kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari.
Namun, seiring perkembangan zaman, kebudayaan Dayak juga mengalami pergeseran.
Salah satu dusun suku Dayak terdapat di Nanga Nyabo, tepatnya di Kapuas Hulu. Pada zaman dahulu, di sini masih lengket dengan kebudayaan asli, dari rumah tinggal, perilaku,hukum adat hingga busana sehari-hari.
Kini, daerah di sini hampir sama dengan daerah lainnya di pulau Kalimantan. Mungkin hukum adat masih berlaku di sana. Tetapi, soal pakaian tradisional yang dulunya dikenakan sehari-hari, kini telah berubah.
Lihat saja, anak-anak Dayak yang tinggal di Nanga Nyabo, tak ubahnya seperti bocah zaman sekarang, yang mengenakan pakaian biasa.
Yang unik adalah, mereka masih tinggal di rumah Betang. Rumah Betang merupakan rumah adat asli suku Dayak. Rumah Betang tak jauh berbeda dengan Rumah Panggung. Dasar rumah dibuat dari kayu atau bambu. Bentuk rumah memanjang, dengan bagian depan yang dibuat bertingkat.
Rumah Betang terlihat berupa bangunan tinggi dari permukaan tanah. Konon, hal ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang melanda. Sebuah rumah Betang bisa ditinggali oleh beberapa keluarga. Karena struktur bangunan yang memanjang dan luas. Namun, banyak juga dari mereka yang memilih untuk tinggal sekeluarga saja.
Mata pencaharian Suku Dayak kebanyakan adalah nelayan dan petani. Karena tempat ini dekat dengan Sungai Kapuas dan juga perkebunan. Inilah Suku Dayak masa kini. Sedikit demi sedikit mereka mulai meninggalkan mitos-mitos yang dulu sempat ada di masa lalu.
Tetapi di balik kehidupan modern, masyarakat Suku Dayak tetap memegang teguh adat-istiadat mereka, tentunya dengan perkembangan yang positif di masa kini.
Jika Amerika Serikat memiliki suku Indian yang ternama itu, Indonesia juga tak kalah. Negara ini memiliki berbagai macam suku dan adat istiadat yang menarik untuk ditelisik.
Salah satunya adalah Suku Dayak. Suku asli Kalimantan ini bisa dibilang sebagai Indian nya Indonesia. Perbandingan memang tak berdasar. Namun, sebagian masyarakat kerap membandingkan Dayak dan Indian yang berada jauh di sana.
Mungkin karena awalnya suku Dayak memiliki keunikan dalam pakaian adat. Lalu berkembang kemudian soal rumah tinggal, adat istiadat, sistem sosial, dan kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari.
Namun, seiring perkembangan zaman, kebudayaan Dayak juga mengalami pergeseran.
Salah satu dusun suku Dayak terdapat di Nanga Nyabo, tepatnya di Kapuas Hulu. Pada zaman dahulu, di sini masih lengket dengan kebudayaan asli, dari rumah tinggal, perilaku,hukum adat hingga busana sehari-hari.
Kini, daerah di sini hampir sama dengan daerah lainnya di pulau Kalimantan. Mungkin hukum adat masih berlaku di sana. Tetapi, soal pakaian tradisional yang dulunya dikenakan sehari-hari, kini telah berubah.
Lihat saja, anak-anak Dayak yang tinggal di Nanga Nyabo, tak ubahnya seperti bocah zaman sekarang, yang mengenakan pakaian biasa.
Yang unik adalah, mereka masih tinggal di rumah Betang. Rumah Betang merupakan rumah adat asli suku Dayak. Rumah Betang tak jauh berbeda dengan Rumah Panggung. Dasar rumah dibuat dari kayu atau bambu. Bentuk rumah memanjang, dengan bagian depan yang dibuat bertingkat.
Rumah Betang terlihat berupa bangunan tinggi dari permukaan tanah. Konon, hal ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang melanda. Sebuah rumah Betang bisa ditinggali oleh beberapa keluarga. Karena struktur bangunan yang memanjang dan luas. Namun, banyak juga dari mereka yang memilih untuk tinggal sekeluarga saja.
Mata pencaharian Suku Dayak kebanyakan adalah nelayan dan petani. Karena tempat ini dekat dengan Sungai Kapuas dan juga perkebunan. Inilah Suku Dayak masa kini. Sedikit demi sedikit mereka mulai meninggalkan mitos-mitos yang dulu sempat ada di masa lalu.
Tetapi di balik kehidupan modern, masyarakat Suku Dayak tetap memegang teguh adat-istiadat mereka, tentunya dengan perkembangan yang positif di masa kini.
SAUNG vs GAZEBO
Saung berasal dari bahasa sunda yang artinya rumah atau gubug kecil. Biasanya saung disebut untuk gubug yang berada diluar rumah seperti pekarangan rumah, sawah, ladang, kebun, atau dimana saja yang tempatnya terpisah terpaut jarak dari bangunan rumah tinggal.
Saung sama halnya dengan "gazebo", hanya saung lebih dulu akrab dimata dan telinga masyarakat Indonesia karena keberadaannya sudah ada seiring dengan adanya nenek moyang bangsa ini. Sementara kata "gazebo" berkembang dari bangsa Eropa, dipopulerkan oleh para arsitek pengembangan perumahan dengan seiring perkembangan designer penataan taman bahkan kota, hingga gazebo terdengar lebih keren dari pada saung.
Saung sama halnya dengan "gazebo", hanya saung lebih dulu akrab dimata dan telinga masyarakat Indonesia karena keberadaannya sudah ada seiring dengan adanya nenek moyang bangsa ini. Sementara kata "gazebo" berkembang dari bangsa Eropa, dipopulerkan oleh para arsitek pengembangan perumahan dengan seiring perkembangan designer penataan taman bahkan kota, hingga gazebo terdengar lebih keren dari pada saung.
KAMPUNG BUDAYA Sindang Barang
SAMPURASUN !! sapaan bagi warga di Kampung Budaya Sindang Barang, Bogor - Jawa Barat.
sebuah kampung yang sangat amat kental budayanya, menjaga dan menggali kekayaan warisan leluhur.
Suku Baduy, penduduk asli Kampung Budaya. Jika anda memasuki daerah itu, tak luput dari pandangan akan warga yang mengenakan pakaian serba hitam dan beralas kaki sendal jepit, bahkan adapula yang tidak mengenakan alas.
Memang tidak seluruh warga di Sindang Barang yang sangat memeluk budaya dari Suku Baduy, ada pula warga yang di luar daerah Kampung Budaya, mereka telah menggunakan listrik untuk sumber pencahayaan dan lain sebagainya, bahkan sudah memiliki transportasi seperti motor pribadi. Lain halnya dengan penduduk asli Kampung Budaya, jangankan kendaraan pribadi, bahkan pencahayaanpun masih menggunakan api atau pencahayaan alami, rumah panggung kayu, hingga tidur beralaskan tikar.
Karena Kampung Budaya di Sindang Barang ini sangat terjaga baik kebersihan, hingga unsur unsur budaya yang masih kental, hingga kini tak surut pengunjung yang datang untuk menikmati segarnya udara dan ikut merayakan berbagai macam ritual yang mereka sajikan untuk para pengunjung.
sebuah kampung yang sangat amat kental budayanya, menjaga dan menggali kekayaan warisan leluhur.
Suku Baduy, penduduk asli Kampung Budaya. Jika anda memasuki daerah itu, tak luput dari pandangan akan warga yang mengenakan pakaian serba hitam dan beralas kaki sendal jepit, bahkan adapula yang tidak mengenakan alas.
Memang tidak seluruh warga di Sindang Barang yang sangat memeluk budaya dari Suku Baduy, ada pula warga yang di luar daerah Kampung Budaya, mereka telah menggunakan listrik untuk sumber pencahayaan dan lain sebagainya, bahkan sudah memiliki transportasi seperti motor pribadi. Lain halnya dengan penduduk asli Kampung Budaya, jangankan kendaraan pribadi, bahkan pencahayaanpun masih menggunakan api atau pencahayaan alami, rumah panggung kayu, hingga tidur beralaskan tikar.
Karena Kampung Budaya di Sindang Barang ini sangat terjaga baik kebersihan, hingga unsur unsur budaya yang masih kental, hingga kini tak surut pengunjung yang datang untuk menikmati segarnya udara dan ikut merayakan berbagai macam ritual yang mereka sajikan untuk para pengunjung.
Langganan:
Postingan (Atom)



