Senin, 17 Juni 2013

SUKU DAYAK

Benarlah jika Bhineka Tunggal Ika, dijadikan semboyan bangsa Indonesia yang kaya akan pesona budayanya. Salah satunya adalah Suku Dayak.

Jika Amerika Serikat memiliki suku Indian yang ternama itu, Indonesia juga tak kalah. Negara ini memiliki berbagai macam suku dan adat istiadat yang menarik untuk ditelisik.

Salah satunya adalah Suku Dayak. Suku asli Kalimantan ini bisa dibilang sebagai Indian nya Indonesia. Perbandingan memang tak berdasar. Namun, sebagian masyarakat kerap membandingkan Dayak dan Indian yang berada jauh di sana.

Mungkin karena awalnya suku Dayak memiliki keunikan dalam pakaian adat. Lalu berkembang kemudian soal rumah tinggal, adat istiadat, sistem sosial, dan kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari.

Namun, seiring perkembangan zaman, kebudayaan Dayak juga mengalami pergeseran.

Salah satu dusun suku Dayak terdapat di Nanga Nyabo, tepatnya di Kapuas Hulu. Pada zaman dahulu, di sini masih lengket dengan kebudayaan asli, dari rumah tinggal, perilaku,hukum adat hingga busana sehari-hari.

Kini, daerah di sini hampir sama dengan daerah lainnya di pulau Kalimantan. Mungkin hukum adat masih berlaku di sana. Tetapi, soal pakaian tradisional yang dulunya dikenakan sehari-hari, kini telah berubah.

Lihat saja, anak-anak Dayak yang tinggal di Nanga Nyabo, tak ubahnya seperti bocah zaman sekarang, yang mengenakan pakaian biasa.

Yang unik adalah, mereka masih tinggal di rumah Betang. Rumah Betang merupakan rumah adat asli suku Dayak. Rumah Betang tak jauh berbeda dengan Rumah Panggung. Dasar rumah dibuat dari kayu atau bambu. Bentuk rumah memanjang, dengan bagian depan yang dibuat bertingkat.

Rumah Betang terlihat berupa bangunan tinggi dari permukaan tanah. Konon, hal ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang melanda. Sebuah rumah Betang bisa ditinggali oleh beberapa keluarga. Karena struktur bangunan yang memanjang dan luas. Namun, banyak juga dari mereka yang memilih untuk tinggal sekeluarga saja.


Mata pencaharian Suku Dayak kebanyakan adalah nelayan dan petani. Karena tempat ini dekat dengan Sungai Kapuas dan juga perkebunan. Inilah Suku Dayak masa kini. Sedikit demi sedikit mereka mulai meninggalkan mitos-mitos yang dulu sempat ada di masa lalu.

Tetapi di balik kehidupan modern, masyarakat Suku Dayak tetap memegang teguh adat-istiadat mereka, tentunya dengan perkembangan yang positif di masa kini.

SAUNG vs GAZEBO

Saung berasal dari bahasa sunda yang artinya rumah atau gubug kecil. Biasanya saung disebut untuk gubug yang berada diluar rumah seperti pekarangan rumah, sawah, ladang, kebun, atau dimana saja yang tempatnya terpisah terpaut jarak dari bangunan rumah tinggal.

Saung sama halnya dengan "gazebo", hanya saung lebih dulu akrab dimata dan telinga masyarakat Indonesia karena keberadaannya sudah ada seiring dengan adanya nenek moyang bangsa ini. Sementara kata "gazebo" berkembang dari bangsa Eropa, dipopulerkan oleh para arsitek pengembangan perumahan dengan seiring perkembangan designer penataan taman bahkan kota, hingga gazebo terdengar lebih keren dari pada saung.

KAMPUNG BUDAYA Sindang Barang

SAMPURASUN !! sapaan bagi warga di Kampung Budaya Sindang Barang, Bogor - Jawa Barat.
sebuah kampung yang sangat amat kental budayanya, menjaga dan menggali kekayaan warisan leluhur.
Suku Baduy, penduduk asli Kampung Budaya. Jika anda memasuki daerah itu, tak luput dari pandangan akan warga yang mengenakan pakaian serba hitam dan beralas kaki sendal jepit, bahkan adapula yang tidak mengenakan alas.
Memang tidak seluruh warga di Sindang Barang yang sangat memeluk budaya dari Suku Baduy, ada pula warga yang di luar daerah Kampung Budaya, mereka telah menggunakan listrik untuk sumber pencahayaan dan lain sebagainya, bahkan sudah memiliki transportasi seperti motor pribadi. Lain halnya dengan penduduk asli Kampung Budaya, jangankan kendaraan pribadi, bahkan pencahayaanpun masih menggunakan api atau pencahayaan alami, rumah panggung kayu, hingga tidur beralaskan tikar.
Karena Kampung Budaya di Sindang Barang ini sangat terjaga  baik kebersihan, hingga unsur unsur budaya yang masih kental, hingga kini tak surut pengunjung yang datang untuk menikmati segarnya udara dan ikut merayakan berbagai macam ritual yang mereka sajikan untuk para pengunjung.