Sabtu, 21 Desember 2013

IKLIM DALAM ARSITEKTUR


Pada proses perancangan arsitektur, disamping faktor manusia dan kebutuhan akan material bangunan, faktor iklim juga memiliki pengaruh yang besar terhadap suatu perancangan bangunan. Keadaan iklim yang bervariasi di bumi ini menghadirkan gaya, langgam, sifat dan bentuk arsitektur yang berbeda/beragam.

PEMBAGIAN IKLIM

Pembagian iklim dalam arsitektur sangat berkaitan dengan faktor kenyamanan (comfort) dalam kaitan interaksi pemakai dan bangunan.
Dalam hal ini iklim dapat dibagi menjadi 4 katagori utama, yaitu:
  • ·         Iklim Dingin (sejuk)

Iklim ini ditandai oleh rendahnya panas dari radiasi matahari akibat sudut matahari yang rendah. Suhu udara rata-rata 15 0C dibawah nol (-60 0 s/d -70 0F) dan sering dibarengi dengan sejumlah besar hujan. Kelembaban relatif tinggi selama musim dingin.
  • ·         Iklim Moderat (sedang)

Iklim ini ditandai dengan variasi panas yang berlebihan dan dingin yang berlebihan pula, namun tak begitu kontras. Suhu rata-rata pada musim dingin 15 0C dibawah nol dan suhu terpanas sekitar 250C.
  • ·         Iklim Panas Lembab

Iklim ini ditandai dengan variasi panas yang berlebihan serta banyak uap air. Suhu rata-rata diatas 20 0C dengan kelembaban relatif sekitar 80% - 90%.
  • ·         Iklim Panas Kering

Iklim ini ditandai dengan panas yang berlebihan, kurangnya uap air dan udara kering. Suhu udara rata-rata 25 0C, suhu terpanas dapat mencapai 45 0C, sedangkan suhu terdingin dapat mencapai 10 0C disertai dengan kelembaban relatif yang sangat rendah.
Melihat pentingnya pengaruh iklim dalam perencanaan bangunan, maka perlu untuk melakukan pembahasan yang lebih khusus tentang iklim.
Pembahasan iklim sebagai sebuah topik khusus dengan cakupan yang cukup luas ini bertujuan untuk:
1.    Memperdalam pengertian sifat dan tabiat dari ”shelter” atau tempat manusia melakukan aktivitasnya dalam usaha menanggulangi pengaruh iklim.
2.       Memperdalam pengertian “lingkungan makro” (macro environment) dengan parameter-parameter yang mempengaruhi lingkungan tersebut beserta prinsip-prinsip untuk mencapai “lingkungan mikro” (micro environment) yang sesuai untuk penghuninya.
3.   Lebih memberi keyakinan ilmiah pada bentuk (form) sebagai produk akhir dari karya arsitektur. Sehingga bentuk dalam arsitektur tidak hanya estetis, tapi juga logis.
4.       Mempelajari dan menilai keadaan bangunan yang telah ada 

Faktor-faktor yang mempengaruhi pada perancangan arsitektur ditinjau dari iklim antara lain :
1.       Orientasi bangunan terhadap lintasan matahari, angin, dan sistem jalur jalan.
2.       Karakteristik material bangunan terhadap iklim.
3.       Penerangan sekeliling bangunan.
4.       Letak, luas permukaan pada sisi bangunan.
5.       Tinggi bangunan.
6.       Prosentasi luasan penghijauan. Kepadatan bangunan.

Sistem Penghawaan

Ada 2 prinsip utama dalam penghawaan bangunan guna mencapai lingkungan yang sesuai untuk penghuninya, yaitu penghawaan alam dan buatan. Penghawaan alam pada dasarnya memanfaatkan aliran angin guna pergantian udara pada ruang dalam bangunan.

Aliran angin dapat terjadi melalui dua proses, yaitu :
1.       Perbedaan tekanan pada dua tempat
2.       Perbedaan suhu udara pada dua tempat

Penghawaan alam pada dasarnya tergantung pada tenaga angin, maka perancangan penghawaan alam untuk suatu ruangan dalam merupakan usaha untuk merancang:
1.       Sistem pembukaan
2.       Luas pembukaan
3.       Letak pembukaan

Sedangkan aliran udara di luar sebelum masuk ke dalam ruangan sangat dipengaruhi oleh :
1.       Sistem lay out kelompok bangunan
2.       Sistem orientasi utama bangunan
3.       Elemen lansekap 

Pengaruh iklim pada bangunan. Bangunan sebaiknya dibuat secara terbuka denganjarak yang cukup diantara bangunan tersebut agar gerak udara terjamin. Orientasi bangunan ditepatkan diantara lintasan matahari dan angin sebagai kompromi antara letak gedung berarah dari timur ke barat, dan yang terletak tegak lurus terhadap arah angin. Gedung sebaiknya berbentuk persegi panjang yang menguntungkan penerapan ventilasi silang.


A.  Ventilasi Silang
Ventilasi silang ialah penghawaan dalam ruangan melalui dua lubang ventilasi yang saling berhadapan. Lubang pertama untuk masuknya udara sedangkan kedua untuk udara keluar. Penggunaan ventilasi silang tidak sepenuhnya tergantung pada jumlah pergantian udara di dalam ruangan, namun lebih tergantung pada kecepatan angin. Kriteria untuk kondisi ventilasi yang baik ditentukan oleh tipe pemakaian ruang dan iklim setempat. Untuk mencapai distribusi aliran udara yang baik, maka sebaiknya sudut angin datang ialah 45 0 – 60 0 terhadap bidang dinding muka. Elemen penangkap angin, misalnya sirip vertical dapat membantu mempercepat aliran angin ke dalam ruangan. Hal ini disebabkan adanyabenturan angin yang secara aerodinamika dapat menghasilkan kecepatan tambahan.

B.   Bentuk Bangunan dan Orientasi
Orientasi bangunan terhadap arah aliran angin perlu sekali mendapat perhatian, termasuk untuk bangunan tinggi. Hal ini disebabkan karena pada permukaan yang semakin tinggi kecepatan angin semakin tinggi pula dan elemen-elemen penghambat angin seperti pohon sudah tak berfungsi lagi.
Angin bergerak pada umumnya akan mengikuti kontur permukaan yang melengkung, sudut tajam atau permukaan yang kasar akan menyebabkan angin menjadi terpisah. Untuk kecepatan angin yang cukup tinggi/kencang, maka bentuk yang dinamis dan orientasi yang benar perlu sekali dalam perancangan arsitektur.

C.   Pembayangan Matahari
Pada perancangan bangunan yang berkaitan dengan panas yang ditimbulkan oleh matahari, perancang sering memanfaatkan pembayangan sinar untuk mengurangi panas yang diterima oleh bangunan. Pemanfaatan pembayangan merupakan cara yang efisien untuk mengurangi beban panas, walaupun hambatan panas dapat dikontrol dengan perancangan luas permukaan. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perancangan pembayangan sinar matahari adalah:
1.       Mampu mengontrol hantaran panas
2.       Jumlah sinar masuk yang diperlukan untuk penerangan malam
3.       Kesilauan yang terjadi

Sudut pembayangan sinar matahari berubah pada setiap saat, tergantung pada posisi matahari. Oleh karena itu ada juga nacam pembayangan, yaitu :
1.       Pembayangan vertical
2.       Pembayangan horizontal
3.       Kombinasi pembayangan vertical dan horizontal

Untuk mendapatkan suatu hasil perancangan arsitektur yang maksimal terhadap pembayangan sinar matahari, maka faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah:
1.   Pembayangan akan lebih efisien apabila berada disebelah luar dari bangunan dibandingkan dengan sebelah dalam.
2.       Pembayangan luar efisien apabila mempunyai warna gelap.
3.       Pembayangan dalam efisien apabila memiliki warna yang lebih terang.
4.       Pemakaian pembayangan dalam bangunan akan menyebabkan penambahan panas apabila warna gelap.
5.  Pembayangan matahari sebaignya menggunaikan material yang mempunyai kapasitas thermis yang rendah, agar cepat dingin setelah matahari terbenam, sehingga tidak merambatkan panas kedalam bangunan.
6.      Pembayangan matahari tidak selalu sirip vertical dan horizontal atau keduanya bersama, namun ide self shading juga merupakan suatu potensi rancangan arsitektur, sehingga bentuk bangunan lebih dapat memberikan arti.

Sumber :
·         Djelantik, Bahan Kuliah, Iklim dan Arsitektur, Surabaya Reproduksi Arsitektur ITS
·         Setyo Soetiadji Soepadi (1997), Anatomi Utilitas, Djambatan, Jakarta



EKOLOGI DALAM ARSITEKTUR

Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani Oikos (habitat) dan Logos (ilmu). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Ekologi berasal dari kata ekologi yang artinya adalah lingkungan (lingkungan yang terpelihara mulai dari Atmosfer, Biosfer, dan Lithosper), sedangkan Arsitektur adalah, suatu bentuk atau masa, atau juga tata ruang yang terencana secara fungsional yang direncanakan oleh arsitek serta disiplin ilmu lain yang terlibat di dalamnya, maka Eko Arisitektur adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tidak hanya bentuk masa bangunan, material, tata ruang ataupun nilai kearifan lokal yang ada, namun juga kepedulian kita sendiri terhadap bangunan tersebut, bagaimana kita mengartikan fungsi dari pada bangunan tersebut,bagaimana kita mengelolanya, dan bagaimana kita merawatnya. 
EKOLOGI ARSITEKTUR
 Ekologi Arsitektur merupakan pembangunan berwawasan lingkungan, dimana memanfaatkan potensi keselarasan antara bangunan dengan alam sekitarnya, mulai dari Atmosfer, biosfer, Lithosfer serta komunitas. Unsur-unsur ini berjalan harmonis menghasilkan kenyaman, kemanan, keindahan serta ketertarikan. Ekologi Arsitektur telah lama diterapkan di Eropa, Amerika dan Asia tentunya, dimulai dengan perencanaan resort, villa, lodge, dan taman yang bertujuan sebagai tempat peristirahatan, rekreasi, camping ground,atau lainnya, sementara nilai – nilai ekologi adalah kewajiban yang dibawa ke dalamnya. Namun, setelah semakain banyak timbulnya bencana, nilai-nilai ekologi diterapkan kembali sebagai suatu prioritas.
Ekologi Arsitektur berfungsi sebagai sarana edukasi serta analisis untuk mewujudkan fasilitas fisik berwawasan lingkungan, dengan dilakukannya perencanaan secara Ekologi Arsitektur, maka akan terwujudkan keselarasan antara fasilitas fisik dengan Lingkungan.
Tujuan Bangunan yang berwawasan Lingkungan
Bangunan yang berwawasan lingkugan adalah bangunan yang peka terhadap lingkungan tempatnya didirikan. Tujuannya adalah memberikan pendidikan dan contoh bahwa bangunan itu didirikan dengan pertimbangan yang berpihak kepada lingkungan.
Berikut beberapa tujuan prioritas dalam mendirikan bangunan yang berwawasan ekologi: 
·         Sebagai contoh atau panutan bagi masyarakat  umum bahwa betapa pentingnya studi lingkungan sebelum mendirikan bangunan.
·         Memberikan arahan pada masyarakat tentang  bentuk bangunan yang sesuai dengan lingkungan serta budaya sekitar.
·         Memberikan contoh bagaimana perletakan tapak bangunan tanpa menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap lingkungan.
·         Mengikutsertakan masyarakat dalam proses pembangunan, sehingga masyarakat dapat belajar, dan terciptanya peningkatan ekonomi lokal.
·         Memberikan contoh yang benar akan pengelolaan serta perawatan bangunan ekologi, baik itu fisik bangunannya, pengelolaan limbahnya, pengelolaan sumber kebutuhan serta energi sehari-hari, pengelolaan vegetasinya, dan yang terpenting adalah perilaku manusianya.
·         Memberikan kontribusi terhadap lingkungan sekitar untuk merawat sumber material lokal,dan mengajak masyrakat untuk dapat memahami cara merawat, menggunakan serta mamanfaatkan sumber material lokal.
Info lingkungan kualitas arsitektur biasanya sulit diukur, garis batas antara arsitektur yang bermutu dan yang tidak bermutu. Kualitas arsitektur biasanya hanya memperhatikan bentuk bangunan dan konstruksinya, tetapi mengabaikan yang dirasakan sipengguna dan kualitas hidupnya. Apakah pengguna suatu bangunan merasa tertarik.
Pola Perencanaan Eko-Arsitektur selalu memnfaatkan alam sebagai berikut :
·         Dinding, atap sebuah gedung sesuai dengan tugasnya, harus melidungi sinar panas, angin dan hujan.
·         Intensitas energi baik yang terkandung dalam bahan bangunan yang digunakan saat pembangunan harus seminal mungkin.
·         Bangunan sedapat mungkin diarahkan menurut orientasi Timur-Barat dengan bagian Utara-Selatan menerima cahaya alam tanpa kesilauan
·         Dinding suatu bangunan harus dapat memberi perlindungan terhadap panas. Daya serap panas dan tebalnya dinding sesuai dengan kebutuhan iklim/ suhu ruang di dalamnya. Bangunan yang memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa menghemat banyak energi.

Pengaruh baik tugas seorang arsitek terhadap lingkungan
 Memperhatikan hubungan antara ekologi dan arsitektur, yaitu hubungan antara massa bangunan dengan makhluk hidup yang ada disekitar lingkungannya, tak hanya manusia tetapi juga flora dan faunanya. Arsitektur sebagai sebuah benda yang dibuat oleh manusia harus mampu menunjang kehidupan dalam lingkugannya sehingga memberikan timbal balik yang menguntungkan untuk kedua pihak. Pendekatan ekologis dilakukan untuk menghemat dan mengurangi dampak  – dampak negatif yang ditimbulkan dari terciptanya sebuah massa bangunan, akan tetapi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar. Contoh terapannya yaitu :
·         Munculnya trend green design.
·         Memberikan dampak pada estetika bangunan.
·         Dapat memberikan pemecahan masalah pada tata letak bangunan atau kota.
Memperhatikan kondisi lahan yang akan dibangun. Sebagai contoh bila bangunan akan didirikan pada lahan yang memiliki kemiringam, maka dengan pendekatan ekologis bisa dicarikan solusinya seperti memperkuat pondasi, atau menggabungkan unsur alam pada lingkungan dengan bangunan yang ada sehingga semakin estetis bangunan yang tercipta.


sumber :
 
http://www.omasae.com/2012/08/pengaruh-tugas-seorang-arsitek-terhadap.html

Sabtu, 14 Desember 2013

ARSITEK dan ARSITEKTUR


ARSITEK    adalah ‘seseorang’ ahli dalam bidang arsitektur, ahli rancanga bangun, atau ahli rancang binaan.
                      Lingkup pekerjaan arsitek sangatlah luas. Mulai dari lingkup interior ruang, lingkup bangunan, lingkup kompleks bangunan, sampai dengan lingkup kota atau regional.
Secara umum lagi ARSITEK adalah sebuah perancang skema atau rencana.
                     ARSITEK berasal dari Latin yaitu “architectus”, dan dari bahasa Yunani yaitu “architekton” (master pembangun), archi (pemimpin) + tekton (pembangun/tukang kayu).
                                
Jenis Tugas dan Lingkup Pekerjaan Arsitek

Layanan Utama Kerja Arsitek dalam pekerjaan perencanaan dan perancangan Arsitektur dilaksanakan dalam tahap pekerjaan sebagai berikut :

Pekerjaan Tahap ke 1        : Tahap Konsep Rancangan
Pekerjaan Tahap ke 2        : Tahap pra-Rancangan / Skematik Desain
Pekerjaan Tahap ke 3        : Tahap Pengembangan Rancangan 
Pekerjaan Tahap ke 4        : Tahap Pembuatan Gambar Kerja
Pekerjaan Tahap ke 5        : Tahap Proses Pengadaan Pelaksanaan Konstruksi
Pekerjaan Tahap ke 6        : Tahap Pengawasan Berkala.


Pelaksanaan tahapan-tahapan Pekerjaan Perancangan dilaksanakan sebagai berikut :

Setiap tahapan pekerjaan perancangan dapat dilaksanakan daat tahap pekerjaan sebelumnya telah mendapat persetujuan dari pengguna jasa.

Tahap 1 : Tahap Konsep Rancangan 

1. Sebelum kegiatan perancangan dimulai, perlu ada kejelasan mengenai semua data dan informasi dari pengguna jasa yang terkait tentang kebutuhan dan persyaratan pembangunan agar maksud dan tujuan pembangunan dapat terpenuhi.dengan sempurna.

2. Pada tahap ini arsitek melakukan persiapan perancangan yang meliputi pemeriksaan seluruh data serta informasi yang diterima yang diterima, membuat analisis dan pengolahan data yang menghasilkan :

a. Program Rancangan yang disusun arsitek berdasarkan pengolahan data primer maupun sekunder serta informasi lain untuk mencapai batasan tujuan proyek serta kendala persyaratan/ketentuan pembangunan yang berlaku.

Setelah program rancangan diperiksa dan mendapat persetujuan pengguna jasa, selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk konsep rancangan.

b. Konsep Rancangan yang merupakan dasar pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan semua bidang terkait baik struktur, mekanikal, elektrikal, dan atau bidang keahlian lain bila diperlukan yang melandasi perwujudan gagasan rancangan yang menampung semua aspek, kebutuhan, tujuan, biaya, dan kendala proyek.

Setelah mendapatkan persetujuan dari pengguna jasa konsep ini merupakan racangan dasar perancangan tahap selanjtunya. 

Tahap 2 : Tahap pra-Rancanan/Skematik Desain

1. pra-Rancangan 

Pada tahap ini berdasarkan Konsep Rancangan yang paling sesuai dan dapat memenuhi persyaratan program perancangan, arsitek menyusun pola dan gubahan bentuk arsitektur yang diwujudkan dalam gambar-gambar. Sedangkan nilai fungsional dalam bentuk diagram-diagram. Aspek kualitatif lainnya serta aspek kuantitatif seperti perkiraan luas lantai, informasi penggunaan bahan, sistem konstuksi, biaya, dan waktu pelaksanaan pembangunan disajikan dalam bentuk laporan tertulis maupun gambar-gambar.

Setelah diperiksa dan mendapatkan persetujuan dari pengguna jasa, arsitek melakukan kegiatan tahap selanjutnya.

2. Sasaran tahap ini untuk :

a. Membantu pengguna jasa dalam memperoleh pengertian yang tepat atas program dana konsep rancangan yang telah dirumuskan arsitek.

b. Mendapatkan pola dan gubahan bentuk rancangan yang tepat, waktu pembangunan yang paling singkat, serta biaya yang paling ekonomis.

c. Memperoleh kesesuaian pengertian yang lebih tepat atas konsep rancangan serta pengaruhnya terhadap kelayakan lingkungan.

d. Menunjukan keselarasan dan keterpaduan konsep rancangan terhadap keterpaduan konsep Rencana Tata Kota dalam rangka perizinan.

Tahap 3 : Tahap Pengembangan Rancangan

1. Pada tahap Pengembangan Rancangan, arsitek bekerja keras atas dasar pra-rancangan yang telah disetujui oleh pengguna jasa untuk menentukan : 

a. Sistem konstruksi dan struktur bangunan, sistem mekanikal-elektrikal, serta disiplin terkait lainnya dengan mempertimbangkan kelayakan dan kebaikannya baik terpisah maupun secara terpadu.

b. Bahan bangunan akan dijelaskan secara garis besarn dengan mempertimbangakan nilai, manfaat, ketersediaan bahan, konstruksi, dan nilai ekonomi.

c. Perkiraan biaya konstruksi akan disusun berdasarkan sistem bangunan, kesemuanya disajikan dalam bentuk gambar-gambar, diagaram-diagaram sistem, dan laporan tertulis.

d. Setelah diperiksa dan mendapatkan persetujuan jasa, hasil pengembangan rancangan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan oleh arsitek sebagai dasar untuk memulai tahap selanjutnya. 

2. Sasaran tahap ini untuk :

a. Untuk memastikan dan menguraikan ukuran serta wujud karakter bangunan secara menyeluruh, pasti, dan terpadu.

b. Untuk mematangkan konsep rancangan secara keseluruhan, terutama ditinjau dari keselarasan sistem-sistem yang terkandung didalamnya baik dari segi kelayakan fungsi, estetika, waktu, dan ekonomi bangunan. 

Tahap 4 : Tahap Pembuatan Gambar Kerja

1. Pada tahap Pembuatan Gambar Kerja, berdasarkan hasil pengembangan rancangan yang telah disetujui oleh pengguna jasa, Arsitek menerjemahkan konsep rancangan yang terkandung dalam pengembangan rancangan tersebut ke dalam gambar-gambar dan uraian uraian teknis yang terperinci sehingga secara tersendiri maupun secara keseluruhan dapat menjelaskan proses pelaksanaan dan pengawasan konstruksi.

Arsitek menyajikan dokumen pelaksanaan dalam bentuk gambar gambar kerja dan tulisan spesifikasi dan syarat syarat teknik pembangunan yang jelas, lengkap dan teratur, serta perhitungan kuantitas pekerjaan dan perkiraan biaya pelaksanann pembangunan yang jelas, tepat, dan terperinci.

Setelah diperiksa dan mendapatkan persetujuan dari pengguna jasa, Gambar Kerja yang dihasilkan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan siap digunakan untuk proses selanjutnya.

2. Sasaran tahap ini untuk :

a, Untuk memperoleh teknik pelaksanaan konstruksi, agar konsep rancangan yang tergambar dan dimaksud dalam pengembangan rancangan dapat diwujudkan secara fisk dengan mutu yang baik.

b. Untuk memperoleh kuantitatif, agar biaya dan waktu pelaksanaan pembangunan dapat dihitung dengan seksama dan dapat dipertanggungjawabkan.

c. Untuk melengkapi kejelasan teknis dalam bidang administrasi pelaksanaan pembangunan dan memenuhi persyaratak yuridis yang terkandung dalam dokumen pelelangan dan dokumen perjanjian/kontrak kerja konstruksi.

Tahap 5 : Tahap Proses Pengadaan Pelaksanaan Konstruksi

1. Penyiapan Dokumen Pengadaan Pelaksanaan Konstruksi.
Pada tahap ini, arsitek mengolah hasil pembuatan Gambar Kerja ke dalam bentuk format Dokumen Pelelangan yang dilengkapi (RKS) serta Rencana Anggaran Biaya (RAB) termasuk Daftar Volume (Bill of Quantity/BQ).

Sehingga secara tersendiri maupun keseluruhan dapat mendukung proses : 

a. Pemilihan Pelaksana Konstruksi
b. Penugasan Pelaksana Konstruksi
c. Pengawasan Pelaksana Konstruksi
d. Perhitungan besaran luas dan volume serta biaya pelaksanaan pembangunan yang jelas

2. Pada Tahap Pelelangan Arsitek membantu pengguna jasa secara menyeluruh atau secara sebagian dalam : 

a. Mempersiapkan dokumen pelelangan;
b. Melakukan prakualifikasi seleksi pelaksana konstruksi;
c. Membagikan Dokumen Pelelangan kepada peserta/lelang;
d. Memberikan penjelasan teknis dan lingkup pekerjaan;
e. Menerima penawaran biaya dari pelaksana konstruksi;
f. Melakukan penilaian atas penawaran tersebut;
g. Melakukan nasihat dan rekomendasi pemiliha pelaksana konstruksi kepada pengguna jasa;
h. Menyusun Perjanjian Kerja Konstruksi antara Pengguna Jasa dan Pelaksana Konstruksi.

3. Sasaran tahap ini untuk :
Untuk memperoleh penawaran biaya dan waktu konstruksi yang wajar dan memenuhi persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan sehingga Konstruksi dapat dipertanggungjawabkan dan dilaksanakan dengan baik dan benar.

Tahap 6 : Tahap Pengawasan Berkala

a. Arsitek melakukan peninjauan dan pengawasan secara berkala dilapangan dan mengadakan pertemuan secara teratur dengan pengguna jasa dan Pelaksana Pengawasan Terpadu atai MK yang ditunjuk oleh pengguna jasa.

b. Dalam hal ini, arsitek tidak terlibat dalam kegiatan pengawasan harian atau menerus.

c. Penanganan pekerjaan pengawasan berkala dilakukan paling banyak 1 kali dalam 2 minggu atau sekurang kurangnya 1 kali dalam sebulan.

2. Apabila lokasi pembangunan diluar kota tempat kediaman arsitek, maka biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan perjalan arsitek ke lokasi pembangunan, wajib diganti oleh pengguna jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau yang ditetapkan dan disepakati bersama sebelumnya.

3. Sasaran tahap ini untuk :

a. Untuk membantu pengguna jasa dalam merumuskan kebijaksanaan dan memberikan pertimbangan-pertimbangan untuk mendapatkan keputusan tindakan pada waktu pelaksanaan konstruksi, khususnya masalah-masalah yang erat dengan hubungannya dengan yang dibuat oleh arsitek.

b. Untuk membantu Pengawasan Terpadu atau MK khususnya dalam menanggulangi masalah-masalah konstruksi yang berhubungan dengan rancangan yang dibuat oleh arsitek.

c. Untuk turut memastikan bahwa pelaksanaan konstruksi dilakukan sesuai dengan ketentuan dengan ketentuan mutu yang terkandung dalam rancangan yang dibuat oleh arsitek.


ARSITEKTUR       adalah “seni” dan “ilmu” dalam merancang bangunan dan merancang lingkungan binaan (artekfak). Mulai dari lingkup makro, seperti perencanaan dan parancangan bangunan, interior, furniture, dan produk.
Dalam arti yang sempit, arsitektur sering kali diartikan sebagai ilmu dan seini perencanaan dan perancangan bangunan. Dalam pengertian lain, istilah ARSITEKTUR sering juga dipergunakan untuk menggantikan istilah “hasil-hasil proses perancangan”.
Menurut Vitruvius didalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang) bangunan yang baik haruslah memiliki :
·         Keindahan / Estetika (Venustas)
·         Kekuatan (Firmitas)
·         Kegunaan / Fungsi (Utilitas)
ARSITEKTUR dapat dilaksanakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga untur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa untus fungsi itu sendiri didalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.
ARSITEKTUR adalah holak, termasuk didalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, politik, sejara, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, “Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar, dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni”. Ia pun menambahg=kan bahwa seorang arsitek harus fasih didalam bidang musik, astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama didalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme, fenomenologi strukturalisme, post-strukturalisme, dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat yang memengaruhi arsitektur.